Rumah Prefab ini menggunakan EPS Concrete Panel (STYCOPAN) uk.3000x500x60, lokasi di BATULICIN - KALIMANTAN SELATAN, HUB: Herman HP: 085692572313

SLIDESHOW RUMAH PREFAB EPS CONCRETE PANEL (STYCOPAN)

Kamis, 07 Februari 2013

BETON/BATA RINGAN


Beton ringan adalah beton yang memiliki berat jenis (density) lebih ringan daripada beton pada umumnya. Beton ringan bisa disebut sebagai beton ringan aerasi (Aerated Lightweight Concrete/ALC) atau sering disebut juga AAC (Autoclaved Aerated Concrete) yang mempunyai bahan baku utama terdiri dari pasir silika, kapur, semen, air, ditambah dengan suatu bahan pengembang yang kemudian dirawat dengan tekanan uap air. Tidak seperti beton biasa, berat beton ringan dapat diatur sesuai kebutuhan. Pada umumnya berat beton ringan berkisar antara 600 – 1600 kg/m3. Karena itu keunggulan beton ringan utamanya ada pada berat, sehingga apabila digunakan pada proyek bangunan tinggi (high rise building) akan dapat secara signifikan mengurangi berat sendiri bangunan, yang selanjutnya berdampak kepada perhitungan pondasi.
Teknologi material bahan bangunan berkembang terus, salah satunya beton ringan aerasi ALC (Aerated Lightweight Concrete) atau sering disebut juga AAC (Autoclaved Aerated Concrete). Sebutan lainnya Autoclaved Concrete, Cellular Concrete (semen dengan cairan kimia penghasil gelembung udara ), Porous Concrete, dan di Inggris disebut Aircrete and Thermalite. Beton ringan AAC ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1923 di Stockholm, oleh arsitek Swedia dan penemunya adalah Johan Axel Eriksson, sebagai alternatif material bangunan untuk mengurangi penggundulan hutan. Bahan pembuat beton ringan ini dikenal sebagai "gas concrete" yang digunakan dalam memproduksi isolasi panas bahan bangunan. Setelah Perang Dunia Kedua, teknologi ini dengan cepat menyebar ke berbagai belahan dunia, terutama Eropa dan Uni Soviet. Karena berukuran besar, sehingga aplikasinya ekonomis, ini digunakan untuk struktur bangunan rendah. Tidak sampai tahun 1950-an sudah diperkenalkan ke AS sebagai beton berbusa atau beton selular. Beton ringan AAC ini kemudian dikembangkan lagi oleh Joseph Hebel di Jerman Barat di tahun 1943. Dia memutuskan untuk mengembangkan sistem bangunan yang lebih baik dengan biaya yang lebih ekonomis. Inovasi-inovasi brilian yang dilakukannya, seperti proses pemotongan dengan menggunakan kawat, membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan produk ini. Hasilnya, beton ringan aerasi ini dianggap sempurna, termasuk material bangunan yang ramah lingkungan, karena dibuat dari sumber daya alam yang berlimpah. Sifatnya kuat, tahan lama, mudah dibentuk, efisien, dan berdaya guna tinggi. Kesuksesan Hebel di Jerman segera dilihat negara-negara lain. Pada tahun 1967 bekerja sama dengan Asahi Chemicals dibangun pabrik Hebel pertama di Jepang. Sampai saat ini Hebel telah berada di 29 negara dan merupakan produsen beton aerasi terbesar di dunia. Di Indonesia sendiri beton ringan mulai dikenal sejak tahun 1995, saat didirikannya PT. Hebel Indonesia di Karawang Timur, Jawa Barat. Saat ini di Indonesia produk bata ringan dengan sistem AAC selain produk tersebut diatas adalah CELCON (PT. JAYA CELCON) & CITICON (PT. VICCON MODERN INDUSTRY).
 

KELEBIHAN AAC

o  Ukuran akurat dan mudah dibentuk, sehingga dapat meminimalkan sisa-sisa bahan bangunan yang tak terpakai
o  Alat yang digunakan pun sederhana, cukup menggunakan alat pertukangan kayu
o  Mempermudah proses konstruksi, untuk membangun sebuah gedung dapat diminimalisir produk yang akan digunakan
o   Bobotnya yang ringan mengurangi biaya transportasi
o   Karena ringan tukang sehingga cepat dalam pengerjaannya 
o   Perekatnya khusus, cukup 3 mm saja 
o   Mengurangi biaya struktur 
o   Mengurangi biaya pondasi 
o   Waktu pembangunan lebih pendek 
o  Tenaga kerja lebih sedikit, sehingga secara keseluruhan bisa lebih murah dan efisien 
o   Tahan panas dan api, karena berat jenisnya rendah 
o   Kedap suara 
o   Tahan lama, kurang lebih sama tahan lamanya dengan beton konvensional 
o   Kuat tetapi ringan
o   Anti jamur 
o   Tahan gempa 
o   Anti serangga 
o Biaya perawatan yang sedikit, bangunan tak terlalu banyak mengalami perubahan
o   Nyaman 
o   Aman, karena tidak mengalami rapuh, bengkok, berkarat, korosi 

KEKURANGAN AAC 
o   Karena ukurannya yang besar, untuk ukuran yang tanggung, akan memakan waste yang cukup besar. Diperlukan keahlian tambahan untuk tukang yang akan memasangnya, karena dampaknya berakibat pada waste dan mutu pemasangan.
o  Perekat yang digunakan harus disesuaikan dengan ketentuan produsennya, umumnya adalah semen instan.
o   Nilai kuat tekannya (compressive strength) terbatas, sehingga sangat tidak dianjurkan penggunaan untuk perkuatan (struktural).
o    Harganya cenderung lebih mahal dari bata konvesional.

BETON RINGAN & BETON BIASA
Beton biasa merupakan bahan yang relatif cukup berat, dengan berat jenis berkisar 2,4 atau berat 2400 kg/m3. Beton dengan berat kurang dari 1800 kg/m3  biasa disebut dengan beton ringan. Perbedaan beton ringan dengan beton biasa berdasarkan proses produksinya adalah:
1.   Expanding process, yaitu pada saat cetak; panas hasil reaksi CaO dengan air bereaksi dengan aluminium pasta yang kemudian menghasilkan gas H2 sehingga terjadi pengembangan, dan berpori.
2.   Curring process, yaitu hanya 12 jam saja berbeda dengan beton biasa yang mengenal umur 28 hari, proses curring dilakukan dengan steam 11 bar di dalam autoclave yang hanya 11 jam, sehingga material dasar CaO, pasir, semen, gypsum berubah menjadi bahan lain yaitu tobermorite (Calcium Sylicate Hydrate).

BETON/BATA RINGAN & BATA BIASA
Berikut tabel kelebihan dan kekurangan dari beton/bata ringan, jika dibandingkan dengan jenis bata lain sebelumnya, dalam hal ini dibandingkan dengan bata merah.

PROSES PRODUKSI AAC
Campuran pembuatan beton ringan terdiri dari semen, pasir kwarsa, kapur, sedikit gypsum, air, dan dicampur alumunium pasta sebagai bahan pengembang (pengisi udara secara kimiawi). Setelah adonan tercampur sempurna, nantinya akan mengembang selama 7-8 jam. Alumunium pasta yang digunakan dalam adonan tadi, selain berfungsi sebagai pengembang ia berperan dalam mempengaruhi kekerasan beton. Volume aluminium pasta ini berkisar 5-8 persen dari adonan yang dibuat, tergantung kepadatan yang diinginkan. Adonan beton aerasi ini lantas dipotong sesuai ukuran. Adonan beton aerasi yang masih mentah ini, kemudian dimasukkan ke autoclave chamber atau diberi uap panas dan diberi tekanan tinggi. Suhu di dalam autoclave chamber sekitar 183 derajat celsius. Hal ini dilakukan sebagai proses pengeringan atau pematangan.

ALTERNATIF AAC
Teknologi pembuatan beton/bata ringan aerasi dengan cara AAC (Autoclaved Aerated Concrete) sangatlah mahal dan tidak mungkin dikerjakan oleh industri kecil atau rumahan. Karena AAC memerlukan teknologi dengan investasi yang sangat besar, terutama untuk mendatangkan mesin-mesin autoclave chamber-nya dan tentu saja memerlukan tempat produksi yang luas. Dengan “autoclave” bata ringan akan lebih keras dan mutunya lebih tinggi.  Sedangkan untuk pembuatan bata ringan aerasi “non autoclave” sangatlah mudah untuk dikerjakan oleh industri kecil atau rumahan.
Pertanyaannya: "Haruskah pembuatan bata ringan itu dengan cara di-autoclave???"
Dalam satu struktur bangunan; kolom, balok dan plat beton adalah berfungsi struktural, namun dinding bukanlah berfungsi struktural, sehingga secara teknis dinding harus diperhitungkan hanya sebagai pembatas atau penyekat ruangan.
Untuk mengurangi beban mati suatu struktur beton atau mengurangi sifat penghantaran panas maka telah banyak dipakai beton ringan non struktural. Setelah pengecoran plat lantai, pekerjaan screeding untuk levelling permukaan lantai beton sangat baik menggunakan sistem beton ringan seperti ini, karena pekerjaan ini bukanlah pekerjaan struktural, sehingga pekerjaan lebih hemat disamping itu akan berpengaruh juga pada berat keseluruhan bangunan. Namun demikian perlu diperhatikan syarat-syarat pembuatan beton ringan seperti berikut:
Secara umum cara pembuatan beton/bata ringan (tanpa atau dengan aerasi) berdasarkan komposisi material utama, cara pemeliharaan dan pelaku produksinya, dapat dikelompokkan sesuai tabel berikut:

 
Bata ringan aerasi mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan bahan material yang sudah ada sebelumya seperti, bata merah dan batako. Sekarang ini sudah banyak dijumpai material jenis bata ringan, sudah mulai banyak orang mengenal dan menggunakannya. Telah banyak juga produsen bata ringan aerasi dengan sistem CLC atau ALC, karena sistem ini tidak memerlukan investasi yang sangat besar namun sudah cukup untuk memenuhi persyaratan teknis.

Produk yang kami kembangkan adalah alternatif bata ringan jenis lain, yang kami sebut dengan:
STYCOBLOCK adalah bata ringan aerasi yang ditambahkan didalamnya material EPS (Expanded Polystyrene).
STYCOBLOCK adalah bata ringan aerasi yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bata ringan jenis lain, karena EPS merupakan isolator suhu dan peredam suara yang sangat baik.
STYCOBLOCK adalah bata ringan aerasi yang mempunyai harga lebih murah dibandingkan dengan bata ringan jenis lain, namun masih memenuhi syarat teknis.
STYCOBLOCK adalah beton ringan aerasi yang berslogan GREEN ENVIRONMENT ORIENTED!!!